Rabu, 30 Maret 2016

MAKALAH Anak Gadis Masa Remaja pada Pubertas dan Anak Gadis Masa Adelosencence (KEBIDANAN)




MAKALAH
“Anak Gadis Masa Remaja pada Pubertas dan Anak Gadis Masa Adelosencence”
Untuk memenuhi mata kuliah Psikologi Kebidanan
Dosen Pengampu Ibu Laela Tunnisa, S.ST dan Ibu Lia Rofiatin, S.ST



Disusun Oleh :

Nama       : Rita Ratnasari
Nim           :  15140076
Kelas         : B.12.2




DIV-BIDAN PENDIDIK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI JOGYAKARTA
TAHUN 2015/2016




  BAB I
PENDAHULUAN
     A.      Latar Belakang
          Pubertas adalah perubahan cepat pada kematangan fisik yang meliputi perubahan tubuh dan hormonal yang terutama terjadi selama masa remaja. Proses organis yang paling penting pada masa ini adalah kematangan seksual. Pada saat pertumbuhan ini mengalami suatu krisis yaitu kehilangan keseimbangan jasmani dan rohani. Terkadang hormon dan fungsi-fungsi motorik juga terganggu, akan terlihat gejala-gejala tingkah laku seperti, canggung, kaku, dan malu. Di samping itu, mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, sukar di alami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, kadang di lain waktu dia begitu ceria. Kematangan seksual sekalipun bersifat biologis namun menentukan sikap, yaitu faktor psikis anak terhadap diri sendiri dan konstitusi tubuhnya. Anak gadis mulai menaruh minat besar terhadap keadaan dirinya, misalnya dengan bersolek. Hal ini dilakukan untuk memupuk harga diri dan eksistensi dirinya selaku wanita.

          Adolescentia berasal dari istilah latin, yang berarti masa muda yang terjadi antara 17-30 tahun. Sehingga disimpulkan bahwa proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 – 22 tahun.
Anak gadis pada masa adolence adalah anak gadis masa transisi/peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikologi. Secara kronologis yang tergolong remaja ini berkisar antara 12/13 – 21 tahun. Untuk menjadi orang dewasa, mengutip pendapat Erikson, maka remaja akan melalui masa krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri.
Oleh karena itu anak gadis pada masa adolecence ini akan mengalami sifat :
1.      Cinta diri
2.      Fantasi seksual
3.      Multiple personality
4.      Psedoafektivitat.






BAB II
PEMBAHASAN

     A.      Pengertian anak  sebagai Gadis Remaja  pada masa Pubertas
a)     Anak sebagai Gadis Remaja
Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak, mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.  Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya, yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat    bagian, yaitu :
1.      masa pra-remaja 10 – 12 tahun
2.      masa remaja awal 12 – 15 tahun
3.      masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun
4.      masa remaja akhir 18 – 21 tahun

b)     Anak sebagai masa Pubertas
Pubertas(puberty) adalah perubahan cepat pada kematangan fisik yang meliputi perubahan tubuh dan hormonal yang terutama terjadi selama masa remaja awal.
Proses organis yang paling penting pada masa ini adalah, kematangan seksual. Pada saat pertumbuhan ini mengalami suatu krisis yaitu kehilangan keseimbangan jasmani dan rohani. Terkadang harmoni dan fungsi-fungsi motorik juga terganggu, akan terlihat gejala-gejala tingkah laku seperti, canggung, kaku-kikuk, muka tampak kasar dan ”buruk. Kematangan seksual sekalipun bersifat biologis namun menentukan sekali sikap, yaitu faktor psikis anak terhadap diri sendiri dan konstitusi tubuhnya. Anak mulai menaruh minat besar terhadap keadaan dirinya, misalnya dengan bersolek. Hal ini dilakukan untuk memupuk harga diri dan eksistensi dirinya selaku wanita.

     B.      Masalah anak Gadis pada masa Pubertas
1.      Day Dreaming/Mimpi Basah
Istilah mimpi basah, atau datang bulan, sama-sama menandakan kematangan seorang remaja. Mimpi basah akan terjadi pada laki-laki berusia 9-14 tahun,umumnya terjadi secara periodic berkisar sekitar 2-3 minggu sekali. Mimpi basah merupakan pengeluaran cairan sperma yang terjadi secara alamia. Sperma ini di produksi oleh testis, yang merupakn salah satu organ reproduksi laki-laki, ketika alat reproduksi ini mulai berfungsi maka testisnya mulai berproduksi. Mimpi basah kita pakai untuk mengambarkan pengalaman para laki-laki yang menginjak dewasa. Karena sperma baru muncul dalam kehidupan seorang anak laki-laki saat ia menginjakmasa pubernya. Saat itu otak mulai mengaktifkan fungsi seksual, organ-organ reproduksi mulai aktif. Salah satunya testis dimana ia memproduksi sel sperma sebanyak kira-kira sejuta sampai 3 juta tiap harinya. Mimpi basah merupakan mekanisme alami untuk menguras timbunan sperma dari dalam tubuh jika tidak di keluarkan melalui mimpi,maka akan terjadi penyerapan kembali sperma oleh tubuh. Ini merupakan tanda akil balik dari seorang anak laki2 remaja dan harus bersyukur apabila seorang anak laki-laki mengalami mimpi basah, karena itu menandakan anak laki-laki tersebut organ reproduksinya berfungsi,dan dia termasuk anak laki-laki yang normal.

2.      Rasa Malu Berlebihan
Setiap manusia haruslah memiliki rasa malu,karena rasa malu merupakn salah satu control dalam kehidupan seseorang,tetapi apabila rasa malu itu berlebihan dan tidak masuk akal maka itu akan menjadi masalah.karena rasa malu berlebihan akan menghambat kehidupan social seseorang yang sekaligus bisa berdampak terhadap kemajuan dan kesuksesan dalam hidup dan kehidupan seseorang. Rasa malu juga merupakan kombinasi dari kegugupan social dan pengkondisian social,rasa malu dan rendah diri memiliki keterkaitan dan apabila di telusuri banyak orang yang merasa malu yang di sebabkan karena dia merasa rendah diri,rasa malu juga dapat di gambarkan semacam perasaan tidak nyaman,sementara orang yang menderita rendah diri apabila orang tersebut kurang berharga di banding dengan orang lain.  

ü  Di bawah ini beberapa cara menghilangkan rasa malu berlebihan:
1.      Kenalilah rasa malu itu, apa yang membuat kamu merasa malu, apakah keadaan fisik, atau hal-hal yang bersifat psikologis.
2.      Berhentilah menyalakan orang lain untuk menutupi rasa malu. Sadarilah bahwa rasa malu itu bersumber dari dalam diri sendiri bukan dari luar, namun jangan pernah menyalahkan diri sendiri.
3.      Ketika sedang mengalami rasa malu, amatilah reaksi tubuh kamu,apakah kamu merasa tidak nyaman, gelisah, serba salah, tangan gemetar, atau reaksi fisik lainya.
4.      Kenalilah kelemahan kamu, apa yang membuat kamu merasa malu, karena semua orang memiliki kelemahan, tidak ada orang yang sempurna namun sebisa mungkin kita mencoba memperbaiki kelemahan tersebut.
5.      Kenali dan kembangkan terus kelebihan dan keistimewaan kamu, karena seseorang selain memiliki kelemahan pasti memiliki kelebihan, dan kelebihan itu merupan modal untuk percaya diri.
6.      Apabila kamu merasa perasaan malu itu benar-benar di luar control maka berkonsultasilah dengan seorang yang berpengalaman dan kamu percayai. Langkah terakhir adalah jumpai psikolog untuk meminta solusi permasalahan.
7.      Lawan rasa malu dengan berusaha bersikap lebih santai, karana rasa malu berlebihan akan membuat kita kelihatan kaku dan konyol.
8.      Tampilkan sisi terbaik, tonjolkan kelebihan yang di miliki.
9.      Jangan takut akan penolakan dan cacian, jika di awal mental kita sudah jatuh, maka dapat di pastikan penampilan tidak akan maksimal.
10.  Pelajari situasi, jangan sampai rasa malu, justru membuat kita terjebak dalam situasi, harus belajar untuk tetap tenang, dan pelajari apa yang sedang terjadi.

3.      Antagonisme social
Pada usia remaja 14-15 tahun sampai 17-18 tahun, percepatan pertumbuhan fisik sangat menonjol dan kematangan fungsi layaknya orang dewasa akan timbul. Gejolak emosional, sebagai penyertaan perkembangan fisik sering terjadi begitu ekstrim sehingga menyulitkan remaja sendiri maupun lingkungannya. Konflik dengan orang tua, teman sebaya, umumnya akan berkembang yang sering di tandai oleh satu sisi kebutuhan untuk mandiri, sedangkan di sisi lain ketergantungan baik moril maupun materiil masi sangat besar terutama pada orang tua, dan pada kenyataannya remaja merasa belum yakin akan kebutuhan otonomi sehingga remaja sering di hadapkan pada situasi frustrasi. Anak puber sering tidak mau berkerja sama, sering membantah, dan menentang. Sering adanya kesenjangan dan konflik antara remaja dan orang tua. Faktor penyebabnya adalah sifat remaja yang ingin memperoleh kebebasan yang mengatur dirinya sendiri dan remaja berusaha untuk melepaskan diri dari lingkungan serta ikatan dengan orang tua karena mereka ingin mencari identitas diri.

4.      Antagonisme Sex
Antagonisme sex dapat di artikan sebagai suatu perasaan tidak senang atau menentang suatu yang berhubungan dengan sex, yang di aplikasikan dalam sikap dan prilaku. Seorang yang mengalami hambatan sexual, tidak dapat merasakan ataupun membedakan, antara jender yang ada pada dirinya.

ü  Factor-Faktor terjadinya antagonisme sex :
1.      Meskipun dia seorang laki-laki atau perempuan tidak normal yang sering kita sebut dengan gay atau lesbi, maka dia tidak akan menikmati fantasi seksual yang normal. Dan dia akan gagal menikmati fantasi sexual pada dirinya.
2.      Memiliki hambatan nafsu sex dengan lawan jenis
3.      Trauma perkosaan atau melihat kejadian penyiksaan yg berhubungan dengan sex.
4.      Mendengar cerita-cerita tentang sex yang tidak jelas, dan yang ada hanya informasi yang salah tentang sex. (ketidak tahuan ttg info sex)
5.      Hubungan keluarga dan lingkungan yang buruk, di mana beberapa orang tua mengajarkan anak gadisnya untuk mempercayai, sek adalah sesuatu yang buruk, kegiatan yang memalukan, di mana seseorang berbuat kehendak hatinya, sex tidak pernah di bicarakan terbuka dalam keluarga.
6.      Kesehatan yang buruk, mengalami penyakit fisik dan mental, namun ini kemungkinannya sangat kecil.

5.      Kurang Percaya diri
Kurang percaya diri atau rendah diri adalah perasaan menganggap terlalu rendah pada diri sendiri, orang yang rendah diri berarti menganggap diri sendiri tidak mempunyai kemampuan berarti.

ü  Ciri-ciri kurang percaya diri:
1.      Selalu menyendiri dan menarik diri dari pergaulan (bersifat introfert)
2.      Selalu ragu dalam bertindak
3.      Tidak dapat bersaing positif,seperti persaingan kepandaian,dan kegiatan lainnya.
ü  Secara psikologi kurang percaya diri di sebabkan oleh:
1.      Overprotected anak yang selalu di kekang, kurang di beri kebebasan untuk mengaktualisasi diri, merasa independen atau menerima keputusan sikapnya sendiri.mereka merasa takut untuk berbuat salah akibatnya banyak hal yang membuat mereka ragu untuk melakukan sesuatu bahkan membuat si remaja menjadi tidak mau untuk melakukannya.
2.      Terlalu dibiarkan tampaknya akan membuat anak melakukan banyak hal dan menjadikannya Percaya Diri. Namun hal ini bisa sebaliknya jika kebebasan yang di dapatkan tampa arah dan bimbingan mereka akan merasa dirinya tidak di butuhkan, bahkan seperti di buang begitu saja oleh keluarganya, sehinga mereka merasa kosong dan tidak memiliki hub emosional yang baik.
3.      Perfeksionis adalah manusia yang juga memiliki kelemahan, menuntut kesempurnaan untuk seorang anak tanpa di beri  pengertian, anak akan menjadi takut untuk berbuat dan takut untuk tidak sempurna.
4.      Sering di kritik dan di kecewakan. Kritik merupakan hal yang wajar, akan tetapi harus ada solusi dan alasan, demikian pula dengan di kecewakan, berilah alasan dan sebab-sebab kenapa harus di kritik, kita juga harus memberikan pujian sebagai sisi positif penyeimbang.
ü  Hal-hal yang perlu dilakukan terhadap orang yang kurang Percaya Diri
1.      Memberi pengertian.
Komunikasi adalah kuncinya ajak mereka berfikir rasional, kenapa harus melakukan tugas ini, mengapa harus bersikap seperti ini, dan kenapa harus merubah penampilan. dll
2.      Memberi pujian.
Beri pujian sangat penting untuk memotivasi mereka. Pujian dan kritik harus proposinal (memiliki kadar yg sama).
3.      Memberi contoh.
Tunjukan kepada mereka orang-orang  yang sukses, dan berhasil karna mereka Percaya Diri, walaupun kadang-kadang  secara fisik mereka tidak cantik, tapi bisa juga pintar dan memiliki kelebihan.
ü  Hal-hal yang dilakukan untuk mengatasi kurang Percaya Diri
a)     Menciptakan definisi diri positif
b)     Membuat kesimpulan yang positif tentang diri sendiri,belajar melihat bagian2 positif dalam diri,menghentikan opini negative dalan diri
c)      Memperjuangkan keinginan yang positif
d)     Mengatasi masalah secara positif
e)     Memiliki model teladan yang positif

6.      Sikap tidak Tenang
Sikap tidak tenang adalah suatu keadaan ketidak seimbangan emosi, yang manifestisinya kepada tingka laku, yaitu gelisah, banyak tingkah, mudah berubah-ubah. Kebiasaan remaja ketika mengalami hal ini adalah tidak bisa duduk atau berdiri dengan tenang dalam waktu yang lama, hal ini di sebabakan oleh tidak adanya control emosi, sehinga fisikpun merasakan agresifitas mentalnya.

7.      Merasa bosan
Anak pubertas mulai bosan dengan permainan yang sebelumnya sangat dimengerti, tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial, dan kehidupan pada umumnya. Akibatnya, anak sedkit sekali bekerja sehingga prestasinya di berbagai bidang menurun. Anak menjadi terbiasa untuk tidak mau berprestasi khususnya karena sering timbul perasaan akan keadaan fisik yang tidak normal. Contohnya, setiap hari harus pergi ke sekolah, harus belajar, harus mengerjakan tugas-tugas, dll.

8.    Keinginan untuk menyendiri
Anak pada masa perkembanganya terkadang membutuhkan space (tempat) untuk menyendiri, tidak berteman dan mengasingkan diri dari kelompoknya ketika dia bermasalah dengan dirinya sendiri atau bermasalah dengan teman sebayanya. Anak pada masa pubertas cenderung mengasingkan dirinya mana kala merasa ada hal yang kurang cocok dengan dirinya atau (minder).

9.    Keseganan untuk bekerja
Keseganan untuk bekerja adalah,tidak mau tidak sudi,atau rasa malas untuk melakukan suatu pekerjaan. Ketika masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja,di mana pada masa remaja sudah mulai di beri tanggung jawab untuk bekerja maka situasi seperti ini akan menjadi masalah,karena sebelumnya tiidak terbiasa dengan pekerjaan serius.

ü  Kepada orang tua di harapkan agar dapat:
1.      Berkomunikasi untuk mengarahkan remaja bahwa mereka sudah mulai belajar di beri tanggung jawab.
2.      Memberikan kesempatan kepada remaja untuk aktualisasi diri
3.      Memberikan kesempatan kepada remaja untuk bertanggung jawab dengan apa yang di lakukan

10.  Emosionalitas
Emosi menunjukkan pada suatu perasaan dan fikiran yang khas. Mudah tidaknya perasaan seseorang terpengaruh oleh kesan-kesan disebut emosionalitas ( Suryabrata S.,1994). Sejumlah penelitian tentang emosi menunjukkan bahwa perkembangan emosi remaja sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor belajar.

ü  Berdasarkan emosionalitasnya manusia digolongkan menjadi dua tipe yaitu sebagai berikut :
1.      Orang emosionalitasnya tinggi ( mudah terpengaruh kesan-kesan).
Orang yang emosionalitasnya tinggi mempunyai sifat mudah marah, mudah tersinggung, perhatian tidak mendalam, tidak suka ketegangan, pendirian kuat, dan selalu ingin berkuasa.
2.      Orang yang emosionalitasnya rendah (tidak terpengaruh kesan-kesan).
Orang yang memiliki emosional rendah memiliki sifat seperti berhati dingin, berhati-hati dalam menentukan pendapat, praktis, pandai menahan nafsu, suka ketegangan, dan selalu memberikan kebebasan kepada orang lain.

ü  Macam – macam bentuk emosi yaitu marah, sedih, susah, duka, pilu, iri, takut, dan cinta. Faktor-faktor  penyebab emosionalitas pada masa pubertas sebagai berikut :
1.      Sedih, mudah marah, dan suasana hati yang negative sangat sering terjadi selama masa pra haid, dan awal periode haid.
2.      Kurangnya atau lemahnya kemampuan untuk mengontrol dan mengendalikan diri.
3.      Remaja berada di bawah tekanan social dan selama masa kanak-kanak dia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan itu.
4.      Dampak dari penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan social baru.
5.      Kurang percaya diri.

     C.      Anak Gadis pada Masa Adolescence  
Pada masa adolescence, biasanya akan terjadi perubahan pada diri seorang gadis baik fisik maupun psikis, walaupun akibatnya sementara akan tetapi mempengaruhi perubahan dalam pola prilaku, sikap dan kepribadian.  

ü  perubahan-perubahan tersebut di antaranya :
1.      Cinta Diri
Dua kata yang perlu di jelskan dari kutipan di atas yaitu: cinta dan diri sediri. Cinta bermakna perasaan puas pada diri seseorang,sehinga suatu atau yang di cintai akan mendapat perlakuan yang istimewa dari orang yang di cintainya, mendapat penjagaan, di perlakukan secara istimewa, membayangkan keberadaannya, semua hal yang di lakukan karena cinta adalah demi menjaga keberadaan dan rasa puas yang di miliki terhadap yang di cintai. Kalau yang di cintai berupa barang, maka barang tersebut tidak akan pernah di rusakan,cacat atau di rampas orang. Diri sendiri artinya bukan orang lain istilahnya yaitu “AKU”,meliputi tubuh dan batin. Jadi mencintai diri sendiri adalah mencintai tubuh dan batin, bagaimana seseorang mencintai dirinya maka ia akan merawat tubuhnya, menjaganya, dan tidak akan membahayakannya.
Cinta diri merupakan sumber pergeseran dan benturan sebanyak komponen yang ada pada manusia, cinta diri menciptakan tuntutan hasrat dan kebutuhan serta kebebasan yang meluas pada manusia. Ada dua kepentingan hidup yaitu kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Berkorban demi kepentingan umum menjadi tidak berarti, karena naluri cinta dirinya tidak membiarkan kehilangan kesempurnaan sedikit pun dari dirinya.
Ø  Ada 2 jenis Cinta Diri :
a)     Cinta Diri Positif
·         kecintaanmu pada dirimu, jelas melebihi kecintaanmu pada orang lain.
·         Cinta pada diri sendiri dan orang lain dapat saling berdampingan.
·         Cintailah orang di sekelilingmu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, menunjukan bahwa integritas keunikan diri serta cinta dan pengertian terhadap manusia lainya.
b)     Cinta Diri Negative
Dimana seseorang hanya mencintai dirinya sendiri tanpa mementingkan kepentingan orang lain. Dan mementingkan kepentingan dirinya tanpa mempertimbangakan orang lain di sekelilingnya.

2.      Fantasi  Sexsual
Pada masa ini seseorang mulai merasakan cinta dan kasih saying satu sama lain, mempunyai perhatian yang lebih mengenai siapa dan bagaimana mereka (lawan jenis) di mata orang lain, mereka mulai merasakan ketertarikan secara sexual antara satu dengan yang lain. Sehinga timbul yang di namakan rasa suka, ingin memiliki dan saling memuji. Bagi remaja yang pola perkembanganya normal dalam arti dia menyadari setiap tahap perkembangan, maka tidak adanya hambatan dalam dirinya untuk melewati fase ini, akan tetapi apabila ada remaja yang memang tidak melewati fase ini maka akan terjadi keterbelakangan daya tarik atau ketertarikan dengan lawan jenis pada masanya.

3.      Multiple Personality
Kepribadian ganda (tidak hanya 2 kepribadian, bisa lebih dari 2) atau multiple personality. Secara mudahnya bisa di katankan 2 atau lebih jiwa yang menghuni badan dan raga seseorang. Ini merupakan sala satu bentuk kelainan jiwa, dalam pengertian umum kelainan jiwa tidak sama dengan sakit jiwa. Sakit jiwa adalah seseorang yang kehilangan realitas hidupnya, tertawa, sendiri, menagis, berhalusinasi. Sedangkan kelainan jiwa lebih halus dari sakit jiwa, kelainan jiwa masih dalam tahap normal, tidak mengganggu dan biasanya tidak teridentifikasi bila tidak mengunakan alat tes psikologi.
Contoh : rasa takut berlenihan, takut gelap, takut keramaian, takut laba-laba (secara berlebihan). Kelainan jiwa ini bisa bersifat keturunan atau juga pengaruh lingkungan biasanya karena obsesi yang mendalam atau tekanan jiwa/batin yang keras dan lama. Penyebab terjadinya gangguan kepribadian majemuk di akibatkan oleh penyiksaan fisik yang di lakukan oleh ibu atau bapaknya sendiri.akan terjadi pribadi dominan bisa menyadari pribadi-pribadi lainya namun pribadi asli kadang tidak menyadarinya sama sekali.


4.      Psedoafektivitat
Menurut Dr.helena deutsh bahwa relasi emosional, dari identifikasi total, di sebut PSEDOAFEKTIVITAT, yang dapat menimbulkan gejala-gejala neorologis dan patologis.ada juga gadis-gadis adoleseanse yang berbakat intelektual tinggi yang tidak mampu mengendalikan macam-macam identifikasi, dan tidak mampu membatasi wilayah identifikasinya ia sangat mudah terpengaruh oleh sugesti dari luar,sehinga ia sulit mendapatkan keseimbangan batin. Peristiwa ini memberikan efek yang destruktif merusak pada diri sendiri dan lingkunganya, contoh kongkritnya adalah :
1.      Peristiwa kawin cerai berulang kali
2.      Prostitusi/pelacuran
3.      Berganti-ganti lapangan kerja tanpa sebab yang jelas
4.      Petualangan cinta (ganti2 pacar).
Adakalnya identifikasi total ini mengakibatkan timbulnya, pribadi majemuk di mana munculnya pribadi sendiri yang tidak sama dengan pribadi yang teridentifikasi, freud menanamkan gejala tersebut sebagai fenomena hidup. Proses identifikasi ini bisa berlangsung terhadap beberapa orang sehinga timbul perpecahan pribadi yang di kenal sebagai gejala majemuk pribadi.


DAFTAR PUSTAKA
Yanuarti, Dwi Ariyani, S.Psi, “Diktat Psikologi