Senin, 30 Mei 2016

TIPS UNTUK REMAJA PACARAN YANG SEHAT

TIPS UNTUK REMAJA

cara untuk mengembangkan percaya diri
  • identifikasi kekuatan
  • kenali perilaku yang positif
  • libatkan diri pada kegiatan ekstrakurikuler, alahraga, kelompok remaja, dan kegiatan lainnya setelah selesai sekolah
  • menetapkan keinginan/cita-cita secara realistik
menjadi remaja yang gaul fungky dan berprestasi
  • kenali dan sayangi badan
  • dorong diri untuk aktif
  • tekuni hobby
  • pergi bareng-bareng
  • ikuti pacaran sehat
  • kenali situasi berbahaya
  • latihlah untuk bilang "TIDAK" terhadap tawaran kegiatan yang buruk
  • pahami dan koreksi terhadap "MITOS" yang salah

==>PACARAN YANG SEHAT
  • dirumah dan bersama orangtua sendiri
  • bila keluar/pergi bersama-sama dengan teman yang lainnya
  • hindari tempat sepi dan remang-remang
  • hindari sentuhan dan pakaian yang menarik "PERHATIAN" berilah alasannya
  • mencintai = menjada keutuhan
  • tidak melakukan kekerasan (fisik, verbal, posesif)
  • sebaiknya terbuka dengan orang tua tentang pacar, jangan lewat pintu belakan atau diam-diam
  • keluarga juga perlu dikenalkan dengan pacar
  • usahakan untuk memulai pacaran berdiskusi dahulu dengan orang tua tentang menantu yang diharapkan
  • bila keluar/bersam-sama dengan teman-temanatau pasangan lainnya
  • patuhilah aturan orang tua, bila tempat untuk "APEL" ATAU "DIAPELI"
==> PACARAN YANG SEHAT adalah pacaran yangsaling mendukung didalam berprestasi, bukannya memaksa untuk memilih "STUDY ATAU PACARAN"

==> KENALI DAN HINDARI SITUASI BERBAHAYA
  • pesta
  • kumpul-kumpul dengan "GENK"
  • sedang sedih
  • lawan jenis hanya berdua
  • diejek tidak jantan, tidak cinta
  • gabung dengan orang dewasa
  • upacara menuju dewasa

==> BILANG TIDAK "TERIMAKASIH"
  • katakan TIDAK, TERIMAKASIH untuk tawaran merokok, narkoba dan seks
  • jangan menunda 
  • jangan kasar
  • kukuhkan dengan pendirian
  • katakan "CINTA TIDAK PERLU DINYATAKAN DENGAN SENTUHAN ATAU KEINTIMAN"


TERIMAKASIH GUYS, SEMOGA BERMAFAAT YAA..

Minggu, 29 Mei 2016

penularan virus HIV pada ibu dan bayi (KEBIDANAN)

HIV/VIRUS PENYEBAB AIDS

dimana HIV/AIDS dapat menyerang
  • batuk kronis selama lebih 1 bulan
  • infeksi jamur Candida Albicans pada mulut dan tenggorokkan
  • pembengkakkan kelenjar getah bening yang menetap diseluruh badan
  • munculnya Herpes Zoster berulang
  • bercak-bercak gatal diseluruh badan
  • penurunan berat badan lebih dari 1/10 dalam 3 bulan
  • diare kronis, lebih dari 1 bulan (terulang ataupun terus menerus)
  • demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan
bagaimana HIV menular?
  • perpindahan cairan tubuh yaitu pada ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu menyusui.
  • melalui darah yaitu injeksi

perilaku berisiko tertular HIV
  •  hubungan seks tanpa kondom
  • bergantian jarum suntik

prinsip penularan HIV
  1. dikenal dengan ESSE 
  •  exit : keluar
  • sufficient : cukup
  • survive : virusnya hidup
  • enter : masuk
HIV keluar dari tubuh dalam jumlah dan dalam keadaan hidup masuk ke dalam tubuh lain

HIV tidak menular melalui :
  • gigitan nyamuk
  • bersalaman, bersentuhan
  • pelukan, ciuman
  • menggunakan jamban yang sama
  • tinggal serumah
  • menggunakan peralatan makan/minum bersama
BAGAIMANA PENULARAN IBU KE BAYI
sebagai besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan
  • tekanan pada plasenta meningkat=> terjadinya sedikit percampuran antara darah ibu dan darah bayi
  • lebih sering terjadi jika plasenta meradang atau terinfeksi
  • bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir
  • bayi mungkin terinfeksi karena menelan darah ataupun lendir ibu
CARA PENCEGAHAN INFEKSI
  • cuci tangan
  • dekontaminasi
  • desenfeksi tingkat tinggi
  • sterilisasi
  • pelindung (barries) yaitu sarung tangan, appron, google, masker, sepatu boot


Selasa, 17 Mei 2016

“KONSEPSI PERTUMBUHAN JANIN DAN FISIOLOGI ORGAN REPRODUKSI”



MAKALAH
 “KONSEPSI PERTUMBUHAN JANIN DAN FISIOLOGI ORGAN REPRODUKSI”
Untuk memenuhi mata kuliah Asuhan Kebidan Kehamilan
 

Disusun Oleh :

Nama      : Rita Ratnasari

Nim         :  15140076

Kelas      : B.12.2






DIV-BIDAN PENDIDIK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI JOGYAKARTA
TAHUN 2015/2016



BAB II
PEMBAHASAN

    A.    Definisi Kehamilan
               Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan         sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum, dilanjutkan dengan nidasi       atau implantasi. Dihitung dari saat fertilisasi sampai kelahiran bayi, kehamilan normal    biasanya berlangsung dalam waktu 40 minggu. Usia kehamilan tersebut dibagi menjadi 3        trimester yang masing-masing berlangsung dalam beberapa minggu. Trimester 1 selama 12      minggu, trimester 2 selama 15 minggu (minggu ke-13 sampai minggu ke-27), dan trimester 3 selama 13 minggu (minggu ke-28 sampai minggu ke-40).

    B.     Proses Kehamilan
               Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari:
1.      Ovulasi.
2.      Migrasi spermatozoa dan ovum.
3.      Konsepsi dan pertumbuhan zigot.
4.      Nidasi (implantasi) pada uterus.
5.      Pembentukan plasenta.
6.      Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.

    C.     Tanda dan Gejala Kehamilan
1.      Bukti Presumtif (Tidak Pasti)
ü  Gejalanya :
1)    Mual dengan atau tanpa muntah.
2)    Gangguan berkemih.
3)    Fatigue atau rasa mudah lelah.
4)    Persepsi adanya gerakan janin.


ü  Tanda :
1)      Terhentinya menstruasi.
2)      Perubahan pada payudara.
3)      Perubahan warna mukosa vagina.
4)      Meningkatnya pigmentasi kulit dan timbulnya striae pada abdomen.
2.      Bukti Kemungkinan Kehamilan
a)      Pembesaran abdomen.
b)      Perubahan bentuk, ukuran, dan konsistensi uterus.
c)       Perubahan anatomis pada serviks.
d)     Kontraksi Braxton Hicks.
e)      Ballotement.
f)        Kontur fisik janin.
g)      Adanya gonadotropin korionik di urin atau serum.
3.      Tanda Positif Kehamilan
a)      Identifikasi kerja jantung janin yang terpisah dan tersendiri dari kerja jantung ibu.
b)      Persepsi gerakan janin aktif oleh pemeriksa.
c)       Pengenalan mudigah dan janin setiap saat selama kehamilan dengan USG atau pengenalan janin yang lebih tua secara radiografis pada paruh kedua kehamilan.

    D.    Fisiologi Kehamilan
               Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh genitalia wanita mengalami                   perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan        janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormone     somatomatropin, estrogen, dan progesteron yang menyebabkan perubahan pada:
a)      Sistem Reproduksi
1.      Trisemester I
      Terdapat tanda Chadwick, yaitu perubahan warna pada vulva, vagina dan serviks menjadi lebih merah agak kebiruan/keunguan. pH vulva dan vagina mengalami peningkatan dari 4 menjadi 6,5 yang membuat wanita hamil lebih rentan terhadap infeksi vagina. Tanda Goodell yaitu perubahan konsistensi serviks menjadi lebih lunak dan kenyal. Pembesaran dan penebalan uterus disebabkan adanya peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah, hyperplasia & hipertropi otot, dan perkembangan desidua. Dinding-dinding otot menjadi kuat dan elastis, fundus pada serviks mudah fleksi disebut tanda Mc Donald. Pada kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur bebek dan pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa. Pada minggu-minggu pertama, terjadi hipertrofi pada istmus uteri membuat istmus menjadi panjang dan lebih lunak yang disebut tanda Hegar. Sejak trimester satu kehamilan, uterus juga mengalami kontraksi yang tidak teratur dan umumnya tidak nyeri. Proses ovulasi pada ovarium akan terhenti selama kehamilan. Pematangan folikel baru juga ditunda. Tetapi pada awal kehamilan, masih terdapat satu corpus luteum gravidarum yang menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu, kemudian mengecil setelah plasenta terbentuk.1
2.      Trisemester II
      Hormon estrogen dan progesteron terus meningkat dan terjadi hipervaskularisasi mengakibatkan pembuluh-pembuluh darah alat genetalia membesar. Peningkatan sensivitas ini dapat meningkatkan keinginan dan bangkitan seksual, khususnya selama trimester dua kehamilan. Peningkatan kongesti yang berat ditambah relaksasi dinding pembuluh darah dan uterus dapat menyebabkan timbulnya edema dan varises vulva. Edema dan varises ini biasanya membaik selama periode pasca partum. Pada akhir minggu ke 12 uterus yang terus mengalami pembesaran tidak lagi cukup tertampung dalam rongga pelvis sehingga uterus akan naik ke rongga abdomen. Pada trimester kedua ini, kontraksi uterus dapat dideteksi dengan pemeriksaan bimanual. Kontraksi yang tidak teratur dan biasanya tidak nyeri ini dikenal sebagai kontraksi Braxton Hicks, muncul tiba-tiba secara sporadik dengan intensitas antara 5-25 mmHg.1 Pada usia kehamilan 16 minggu, plasenta mulai terbentuk dan menggantikan fungsi corpus luteum gravidarum.
3.      Trisemester III
      Dinding vagina mengalami banyak perubahan sebagai persiapan untuk persalinan yang seringnya melibatkan peregangan vagina. Ketebalan mukosa bertambah, jaringan ikat mengendor,dan sel otot polos mengalami hipertrofi. Juga terjadi peningkatan volume sekresi vagina yang berwarna keputihan dan lebih kental. Pada minggu-minggu akhir kehamilan, prostaglandin mempengaruhi penurunan konsentrasi serabut kolagen pada serviks. Serviks menjadi lunak dan lebih mudah berdilatasi pada waktu persalinan. Istsmus uteri akan berkembang menjadi segmen bawah uterus pada trimester akhir. Otot-otot uterus bagian atas akan berkontraksi sehingga segmen bawah uterus akan melebar dan menipis, hal itu terjadi pada masa-masa akhir kehamilan menjelang persalinan. Batas antara segmen atas yang tebal dan segmen bawah yang tipis disebut lingkaran retraksi fisiologis.

b)      Sistem Integumen
1.      Trisemester I
      Diketahui bahwa terjadi peningkatan suatu hormon perangsang melanosit sejak akhir bulan kedua kehamilan sampai aterm yang menyebabkan timbulnya pigmentasi pada kulit. Linea nigra adalah pigmentasi berwarna hitam kecoklatan yang muncul pada garis tengah kulit abdomen. Bercak kecoklatan kadang muncul di daerah wajah dan leher membentuk kloasma atau melasma gravidarum (topeng kehamilan). Aksentuasi pigmen juga muncul pada areola dan kulit genital. Pigmentasi ini biasanya akan menghilang atau berkurang setelah melahirkan. Angioma atau spider naevi berupa bintik-bintik penonjolan kecil dan merah pada kulit wajah, leher, dada atas, dan lengan. Kondisi ini sering disebut sebagai nevus angioma atau teleangiektasis. Eritema palmaris terkadang juga dapat ditemukan. Kedua kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh hiperestrogenemia kehamilan.
2.      Trisemster II
      Peningkatan melanocyte stimulating hormone (MSH) pada masa ini menyebabkan perubahan cadangan melanin pada daerah epidermal dan dermal.
3.      Trisemester III
      Pada bulan-bulan akhir kehamilan umumnya dapat muncul garis-garis kemerahan, kusam pada kulit dinding abdomen dan kadang kadang juga muncul pada daerah payudara dan paha. Perubahan warna tersebut sering disebut sebagai striae gavidarum. Pada wanita multipara, selain striae kemerahan itu seringkali ditemukan garis garis mengkilat keperakan yang merupakan sikatrik dari striae kehamilan sebelumnya.
c)      Sistem Metabolik
1.      Trisemester I
      Terjadi pertambahan berat badan selama kehamilan yang sebagian besar diakibatkan oleh uterus dan isinya payudara, dan peningkatan volume darah serta cairan ekstraseluler. Sebagian kecil pertambahan berat badan terebut diakibatkan oleh perubahan metabolik yang menyebabkan pertambahan air selular dan penumpukan lemak serta protein baru, yang disebut cadangan ibu. Pada awal kehamilan, terjadi peningkatan berat badan ibu kurang lebih 1 kg.
2.      Trisemester II
      Kenaikan berat badan ibu terus bertambah terutama oleh karena perkembangan janin dalam uterus.
3.      Trisemester III
      Pertambahan berat badan ibu pada masa ini dapat mencapai 2 kali lipat bahkan lebih dari berat badan pada awal kehamilan. Pitting edema dapat timbul pada pergelangan kaki dan tungkai bawah akibat akumulasi cairan tubuh ibu. Akumulasi cairan ini juga disebabkan oleh peningkatan tekanan vena di bagian yang lebih rendah dari uterus akibat oklusi parsial vena kava. Penurunan tekanan osmotik koloid interstisial juga cenderung menimbulkan edema pada akhir kehamilan.
d)     Sistem Imun Hematologi
1.      Trisemester I
      Volume darah ibu meningkat secara nyata selama kehamilan. Konsentrasi hemoglobin dan hematokrit sedikit menurun sejak trimester awal kehamilan. Sedangkan konsentrasi dan kebutuhan zat besi selama kehamilan juga cenderung meningkat untuk mencukupi kebutuhan janin.
2.      Trisemester II
      Peningkatan volume darah disebabkan oleh meningkatnya plasma dan eritrosit. Terjadi hiperplasia eritroid sedang dalam sumsum tulang dan peningkatan ringan pada hitung retikulosit. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kadar eritropoetin plasma ibu setelah usia gestasi 20 minggu, sesuai dengan saat produksi eritrosit paling tinggi.
3.      Trisemester III
      Konsentrasi hematokrit dan hemoglobin yang sedikit menurun selama kehamilan menyebabkan viskositas darah menurun pula. Perlu diperhatikan kadar hemoglobin ibu terutama pada masa akhir kehamilan, bila konsentrasi Hb < 11,0 g/dl, hal itu dianggap abnormal dan biasanya disebabkan oleh defisiensi besi.
e)      Sistem Pernapasan
1.      Trisemester I
      Kesadaran untuk mengambil nafas sering meningkat pada awal kehamilan yang mungkin diinterpretasikan sebagai dispneu. Hal itu sering mengesankan adanya kelainan paru atau jantung padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Peningkatan usaha nafas selama kehamilan kemungkinan diinduksi terutama oleh progesteron dan sisanya oleh estrogen. Usaha nafas yang meningkat tersebut mengakibatkan PCO2 atau tekanan karbokdioksida berkurang.
2.      Trisemester II
      Selama kehamilan, sirkumferensia thorax akan bertambah kurang lebih 6 cm dan diafragma akan naik kurang lebih 4 cm karena penekanan uterus pada rongga abdomen. Pada kehamilan lanjut, volume tidal, volume ventilasi per menit, dan pengambilan oksigen per menit akan bertambah secara signifikan.
3.      Trisemester III
      Pergerakan difragma semakin terbatas seiring pertambahan ukuran uterus dalam rongga abdomen. Setelah minggu ke 30, peningkatan volume tidal, volume ventilasi per menit, dan pengambilan oksigen per menit akan mencapai puncaknya pada minggu ke 37. Wanita hamil akan bernafas lebih dalam sehingga memungkinkan pencampuran gas meningkat dan konsumsi oksigen meningkat 20%. Diperkirakan efek ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi progesteron.
f)       Sistem Kardiovaskuler
1.      Trisemester I
      Perubahan terpenting pada fungsi jantung terjadi pada 8 minggu pertama kehamilan. Pada awal minggu kelima curah jantung mengalami peningkatan yang merupakan fungsi dari penurunan resistensi vaskuler sistemik serta peningkatan frekuensi denyut jantung. Preload meningkat sebagai akibat bertambahnya volume plasma yang terjadi pada minggu ke 10-20.
2.      Trisemester II
      Sejak pertengahan kehamilan, pembesaran uterus akan menekan vena cava inferior dan aorta bawah saat ibu berada pada posisi terlentang. Hal itu akan berdampak pada pengurangan darah balik vena ke jantung hingga terjadi penurunan preload dan cardiac output yang kemudian dapat menyebabkan hipotensi arterial.
3.      Trisemester III
      Selama trimester terakhir, kelanjutan penekanan aorta pada pembesaran uterus juga akan mengurangi aliran darah utero plasenta ke ginjal. Pada posisi terlentang ini akan membuat fungsi ginjal menurun jika dibandingkan dengan posisi miring.
g)      Sistem Urinaria
1.      Trisemester I
      Pada bulan-bulan awal kehamilan, vesika urinaria tertekan oleh uterus sehingga sering timbul keinginan berkemih. Hal itu menghilang seiring usia kehamilan karena uterus yang telah membesar keluar dari rongga pelvis dan naik ke abdomen. Ukuran ginjal sedikit bertambah besar selama kehamilan. Laju filtrasi glomerulus (GFR) dan aliran plasma ginjal (RPF) meningkat pada awal kehamilan.



2.      Trisemester II
      Uterus yang membesar mulai keluar dari rongga pelvis sehingga penekanan pada vesica urinaria pun berkurang. Selain itu, adanya peningkatan vaskularisasi dari vesica urinaria menyebabkan mukosanya hiperemia dan menjadi mudah berdarah bila terluka.
3.      Trisemester III
      Pada akhir kehamilan, kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul menyebabkan penekanan uterus pada vesica urinaria. Keluhan sering berkemih pun dapat muncul kembali. Selain itu, terjadi peningkatan sirkulasi darah di ginjal yang kemudian berpengaruh pada peningkatan laju filtrasi glomerulus dan renal plasma flow sehingga timbul gejala poliuria. Pada ekskresi akan dijumpai kadar asam amino dan vitamin yang larut air lebih banyak.
h)      Sistem Pencernaan
1.      Trisemester I
      Timbulnya rasa tidak enak di ulu hati disebabkan karena perubahan posisi lambung dan aliran asam lambung ke esophagus bagian bawah. Produksi asam lambung menurun. Sering terjadi nausea dan muntah karena pengaruh human Chorionic Gonadotropin (HCG), tonus otot-otot traktus digestivus juga berkurang. Saliva atau pengeluaran air liur berlebihan dari biasa. Pada beberapa wanita ditemukan adanya ngidam makanan yang mungkin berkaitan dengan persepsi individu wanita tersebut mengenai apa yang bisa mengurangi rasa mual.
2.      Trisemester II
      Seiring dengan pembesaran uterus, lambung dan usus akan tergeser. Demikian juga dengan organ lain seperti appendiks yang akan bergeser ke arah atas dan lateral. Perubahan lainnya akan lebih bermakna pada kehamilan trimester 3.
3.      Trisemester III
      Perubahan yang paling nyata adalah adanya penurunan motilitas otot polos pada organ digestif dan penurunan sekresi asam lambung. Akibatnya, tonus sphincter esofagus bagian bawah menurun dan dapat menyebabkan refluks dari lambung ke esofagus sehingga menimbulkan keluhan seperti heartburn. Penurunan motilitas usus juga memungkinkan penyerapan nutrisi lebih banyak, tetapi dapat muncul juga keluhan seperti konstipasi. Sedangkan mual dapat terjadi akibat penurunan asam lambung.


i)        Sistem Persarafan
1.      Trisemester I
      Wanita hamil sering melaporkan adanya masalah pemusatan perhatian, konsentrasi dan memori selama kehamilan dan masa nifas awal. Namun, penelitian yang sistematis tentang memori pada kehamilan tidak terbatas dan seringkali bersifat anekdot.
2.      Trisemester II
      Sejak awal usia gestasi 12 minggu, dan terus berlanjut hingga 2 bulan pertama pascapartum, wanita mengalami kesulitan untuk mulai tidur, sering terbangun, jam tidur malam yang lebih sedikit serta efisiensi tidur yang berkurang.
3.       Trisemester III
      Penelitian Keenan dkk (1978) menemukan adanya penurunan memori terkait kehamilan yang terbatas pada trimester tiga.12 Penurunan ini disebabkan oleh depresi, kecemasan, kurang tidur atau perubahan fisik lain yang dikaitkan dengan kehamilan. Penurunan memori yang diketahui hanyalah sementara dan cepat pulih setelah kelahiran.
j)        Sistem Muskuloskeletal
1.      Trisemester I
      Pada trimester pertama tidak banyak perubahan pada musuloskeletal. Akibat peningkatan kadar hormone estrogen dan progesterone, terjadi relaksasi dari jaringan ikat, kartilago dan ligament juga meningkatkan jumlah cairan synovial. Bersamaan dua keadaan tersebut meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas persendian. Keseimbangan kadar kalsium selama kehamilan biasanya normal apabila asupan nutrisinya khususnya produk terpenuhi.
2.      Trisemester II
      Tidak seperti pada trimester 1, selama trimester 2 ini mobilitas persendian sedikit berkurang. Hal ini dipicu oleh peningkatan retensi cairan pada connective tissue, terutama di daerah siku dan pergelangan tangan.
3.      Trisemester III
      Akibar pembesaran uterus ke posisi anterior, umumnya wanita hamil memiliki bentuk punggung cenderung lordosis. Sendi sacroiliaca, sacrococcigis, dan pubis akan meningkat mobilitasnya diperkirakan karena pengaruh hormonal. Mobilitas tersebut dapat mengakibatkan perubahan sikap pada wanita hamil dan menimbulkan perasaan tidak nyaman pada bagian bawah punggung.

k)      Sistem Endokrin
            Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan terutama meliputi perubahan konsentrasi hormon seks yaitu progesteron dan estrogen. Pada awal kehamilan, terjadi peningkatan hormon hCG dari sel-sel trofoblas. Juga terdapat perubahan dari korpus luteum menjadi korpus luteum gravidarum yang memproduksi estrogen dan progesteron.
            Pada pertengahan trimester satu, produksi hCG menurun, fungsi korpus luteum gravidarum untuk menghasilkan estrogen dan progesteron pun digantikan oleh plasenta. Pada trimester dua dan tiga, produksi estrogen dan progesteron terus megalami peningkatan hingga mencapai puncaknya pada akhir trimester tiga. Kadar puncak progesteron dapat mencapai 400 mg/hari dan estrogen 20mg/hari. Estrogen dan progesteron memiliki peran penting yang mempengaruhi sistem organ termasuk rongga mulut. Reseptor bagi estrogen dan progesteron dapat ditemukan pada jaringan periodontal. Maka dari itu, ketidakseimbangan hormonal juga dapat berperan dalam patogenesis penyakit periodontal. Peningkatan hormon seks steroid dapat mempengaruhi vaskularisasi gingiva, mikrobiota subgingiva, sel spesifik periodontal, dan sistem imun lokal selama kehamilan. Beberapa perubahan klinis dan mikrobiologis pada jaringan periodontal:
1)      Peningkatan kerentanan terjadinya gingivitis dan peningkatan kedalaman saku periodontal.
2)      Peningkatan kerentanan terjadinya infeksi.
3)      Penurunan kemotaksis neutrofil dan penekanan produksi antibodi.
4)       Peningkatan sejumlah patogen periodontal (khususnya Porphyromonas gingivalis).
5)      Peningkatan sintesis PGE2.
l)        Perubahan Payudara
1.      Trisemester I
      Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon somatomamotropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan ASI. Vena-vena di bawah kulit juga akan lebih terlihat. Areola mammae akan bertambah besar pula dan kehitaman. Kelenjar sebasea dari areola akan membesar dan cenderung menonjol keluar dinamakan tuberkel Montgomery.
2.      Trisemester II
      Pada kehamilan 12 minggu keatas dari puting susu dapat keluar cairan kental kekuning-kuningan yang disebut Kolustrum. Kolustrum ini berasal dari asinus yang mulai bersekresi.selama trimester dua.12 Pertumbuhan kelenjar mammae membuat ukuran payudara meningkat secara progresif. Bila pertambahan ukuran tersebut sangat besar, dapat timbul stria stria seperti pada abdomen. Walaupun perkembangan kelenjar mammae secara fungsional lengkap pada pertengahan masa hamil, tetapi laktasi terlambat sampai kadar estrogen menurun, yakni setelah janin dan plasenta lahir.
3.      Trisemester III
      Pembentukan lobules dan alveoli memproduksi dan mensekresi cairan yang kental kekuningan yang disebut Kolostrum.13 Pada trimester 3 aliran darah di dalamnya lambat dan payudara menjadi semakin besar.

    E. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin dan Embrio
a.       Pertumbuhan Janin
1)      Pertumbuhan Janin Normal
            Pertumbuhan janin manusia ditandai dengan pola-pola sekuensial pertumbuhan, diferensiasi, dan maturasi jaringan sera organ yang ditentukan oleh kemampuan substrat oleh ibu, transfer substrat melalui plasenta, dan potensi pertumbuhan janin yang dikendalinkan oleh genom (Cuningham dkk, 2005). Pertumbuhan janin dibagi menjadi tiga fase pertumbuhan sel yang berurutan (Lin dan Forgas, 1998). Fase awal hiperplasia terjadi selama 16 minggu pertama dan ditandai oleh peningkatan jumlah sel secara cepat. Fase kedua, yang berlangsung sampai minggu ke-32, meliputi hiperplasia dan hipertropi sel. Setelah usia gestasi 32 minggu, pertumbuhan janin berlangsung melalui hipertrofi sel dan pada fase inilah sebagian besar deposisi lemak dan glikogen terjadi. Laju pertumbuhan janin yang setara selama tiga fase pertumbuhan sel ini adalah dari 5 g/hari pada usia 15 minggu, 15-20 g/hari pada minggu ke-24, dan 30-35 g/hari pada usia gestasi 34 minggu (Cuningham dkk, 2005).
            Meskipun telah banyak faktor yang diduga terlibat pada proses pertumbuhan janin, mekanisme selular dan molekular sebenarnya untuk pertumbuhan janin yang abnormal tidak diketahui dengan jelas. Pada kehidupan awal janin penentu utama pertumbuhan adalah genom janin tersebut, tetapi pada kehamilan lanjut, pengaruh lingkungan, gizi, dan hormonal menjadi semakin penting.
b.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Janin
            Faktor keturunan atau bawaan menentukan cepat pertumbuhan, bentuk janin, diferensiasi dan fungsi organ-organ yang dibentuk. Akan tetapi makanan yang disalurkan oleh ibunya melalui plasenta (ari-ari) mempuyai peranan yang sangat penting untuk menunjang potensi keturunan ini (Pudjiadi, 1990). Gizi ibu yang kurang atau buruk pada waktu konsepsi atau sedang hamil muda dapat menyebabkan kematian atau cacat janin. Diferensiasi terjadi pada trimester pertama hidupnya janin, hingga kekurangan zat tertentu yang sangat dibutuhkan dalam proses diferensiasi dapat menyebabkan tidak terbentuknya suatu organ dengan sempurna, atau tidak dapat berlangsungnya kehidupan janin tersebut. Pertumbuhan cepat terjadi terutama pada trimester terakhir kehamilan ibu. Maka kekurangan makanan dalam periode tersebut dapat menghambat pertumbuhannya, hingga bayi dilahirkan dengan berat dan panjang yang kurang daripada seharusnya.

    F.  Perkembangan Janin
            Perkembangan janin sejak fertilisasi sampai aterm melalui beberapa tahap. Zigot >> blastomer >> morula >> blastula >> grastula >> embrioblast >> fetus.
                       

 


Gambar 1
                        Setelah fertilisasi dan terbentuk zigot, zigot masih berada di dalam ampula karena ada kontriksi antara ampula dan kanal oviduk sisanya. Hal tersebut terjadi dalam tiga hingga emapt hari pertama. Selama berada dalam ampula, zigot terus melakukan pembelahan sel secara mitosis mebnetuk morula. Sementara itu peningkatan progesteron yang dihasilkan korpus luteum menstimulasi pelepasan glikogen dari endometrium ke lumen saluran reproduksi sebagrai sumber energi awal embrio. Nutrisi yang terkandung dalam sitoplasma ovum hanya cukupuntuk sehari. Konsentrasi nutrisi yang disekresikan lebih banyak di ampula daripada di lumen uterina.
Setelah empat hari kadar progesteron telah cukup untuk merelaksasikan oviduk sehingga morula bisa menuju uteri melalui gerakan peristaltik dan aktivitas silia. Keterlambatan zigot untuk sampai pada uteri ini sangat penting agar lumen uteri sudah mengakumulasikan nutrisi yang cukup untuk mendukung implantasi embrio. Jika tiba terlalu awal, morula bisa mati.
               Implantasi baru terjadi pada hari ke tujuh. Sebelum itu, zigot masih bebas dalam    rongga uteri selama tiga hingga empat hari sambil melanjutkan pembelahan. Apabila      endometrium sudah cocok untuk implantasi, morula telah turun ke uterus dan terus            berproliferasi serta berdiferensiasi menjadi blastokis yang dapat berimplantasi. Blastokis          merupakan bola berongga berlapis tunggal yang dikelilingi oleh 50 sel. Di dalamnya           terdapat massa padat sel bersama dalam satu sisi. Massa padat tersebut merupakan inner      cell mass yang aan berkembang menjadi fetus. Bagian lain berperan dalam menyokong             kehidupan embrio yang sedang berkembang di dalam uterus.
               Lapisan terluar blastokis, tropoblas melakukan implantasi yang mana nanti akan     berkembang menjadi plasenta bagian fetus. Setelah siap berimplantasi permukaan blastokis        menjadi lengket. Sementara endometrium telah siap dan menjadi lebih adesif dengan      peningkatan cell adhesion molecules (CAMs).
               Saat berkontak dengan endometrium, sel tropoblas melepaskan enzim pencerna      protein yang memungkinkan sel sel tropoblas melakukan penetrasi ke dalam endometrium.         Selain membuat lubang yang penting untuk implantasi, pemecahan dinding endometrium             yang kaya nutrisi juga penting untuk sumber bahan bakaar dan bahan baku metabolisme.   Selanjutnya, membran plasma tropoblas berdegenerasi membentuk sinsitium yang             multinukleat yang nantinya menjadi plasenta bagian fetal.
               Jaringan endometrium yang mengalami modifikasi pada tempat implantasi disebut desidua. Melalui respon terhadap cairan kimia yang dilepaskan oleh blastokis, sel       endometrium mensekresikan prostaglandin secara lokal menyebabkan peningkatan         vaskularisasi, edema dan peningkatan penyimpanan nutrisi. Saat implantasi selesai, seluruh            blastokis terbeanm ke dalam endometrium san del tropoblas terus mencerna sel desidua           disekitarnya untuk menyediakan energi bagi embrio sampai plasenta terbentuk.

Berikut perkembanan janin sesuai rentang minggu:
1.      Minggu Ke-1
          Pembuahan terjadi di bagian luar saluran telur, ketika sebuah sel sperma menembus kulit (zona pellusida) sel telur menembus kulit. Ekor sel sperma tersangkut di luar telur dan terlepas, sehingga kepala sel mani dapat bergerak bebas di dalam sel telur. Bagian dari kepala sperma disebut inti dan mengandung benang-benang informasi yang diperlukan untuk membentuk manusia baru. Ini adalah langkah pertama pembentukan manusia baru yang mempunyai sifat gabungan antara ayah dan ibu. Dalam waktu 8-24 jam dimulai pembelahan segmentasi Pada hari ke 4 blastula memasuki endometrium, zona pelusida lenyap. Pada hari ke 6 blastula mulai berimplantasi (tahap menggali).
2.      Minggu Ke-2
         Tahapan pada minggu kedua adalah dimulainya implantasi Pada hari ke 8 setengah blastula tertanam di endometrium Pada hari ke 9 : blastokista semakin terbenam dan ditutupi oleh bekuan fibrin, sinsitiotropoblas berubah menjadi kubah/cekungan yang akan menyatu dengan pembuluh darah Ibu da berisi darah Ibu, dengan ukuran sebesar kepala peniti Pada hari ke 11 dan 12 selesai mengadakan implantasi dalam stroma, sudah terjadi sirkulasi uteroplasenter
3.      Minggu Ke-3
         Pada minggu ini embrio sudah terbentuk seperti:
1)    Rongga amnion.
2)    Kantung kuning telur utama.
3)    Amnion.
4)    Kantung kuning telur primer.
5)    Lempeng embrionik.
6)    Badan penghubung amnion.
4.      Minggu Ke-4
         Kini bayi berbentuk embrio. Embrio memproduksi hormon kehamilan (HCG) sehingga apabila melakukan test kehamilan, hasilnya positif. Pada tahap ini terjadi pembentukan:
1)      Migrasi selsel dari lapisan primitif.
2)       Lempeng saraf.
3)      Otak.
4)       Lekuk saraf.
5)      Kelenjar thyroid mulai berkembang.
6)      Badan penghubung.
5.      Minggu Ke-5
         Pada minggu ini, panjang janin sekitar 1,27 mm. Sistem saraf pusat, otot, dan tulang mulai dibentuk. Begitu pula dengan kerangka. Selain itu terbentuk juga :
1)      Jantung mulai berdetak.
2)      Fusi lapisan saraf.
3)      Munculnya mata dan telinga.
4)      Bakal tungkai bagian atas.
5)      Otak bagian depan.
6)      Lengkung brachial.
7)      Tulang telinga 
6.      Minggu Ke-6
         Ukuran embrio rata-rata 2-4mm yang diukur dari puncak kepala hingga bokong. Tuba saraf sepanjang punggung bayi talah menutup. Meski belum bisa mendengar, jantung bayi mulai berdetak pada minggu ini. Sistem pencernaan dan pernapasan mulai dibentuk, pucuk-pucuk kecil yang akan berkembang menjadi lengan kaki pun mulai tampak. Rongga matanya sudah terbentuk. Kepalanya seperti kepala reptilia dan mempunyai ekor.
7.      Minggu Ke-7
         Akhir minggu ke tujuh, panjangnya sekitar 5-23 mm dan beratnya 0,8 gram, kira-kira sebesar biji kacang hijau. Pucuk lengan mulai membelah menjadi bagian bahu dan tangan yang mungil. Jantung telah dibagi menjadi bilik kanan dan bilik kiri, begitu pula dengan saluran udara yang terdapat di dalam paru-paru. Terjadi pula :
1)      Pertemuan rongga mulut dan hidung.
2)      Telinga.
3)      Mata.
4)      Lempeng kaki.
5)      Bibir dan hidung terbentuk.
6)      Jari-jari tangan mulai terbentuk.


 

 8. Minggu Ke-8
         Saat ini janin sudah mulai memperlihatkan bentuknya sebagai manusia. Panjangnya 2,5 cm. Kepala besar dibandingkan tubuhnya. Mata dan telinga mulai terbentuk. Mata tertutup kelopak mata, dantetap tertutup sampai minggu ke-24. Mulai terbentuk lengan dan kaki dengan jari-jari kecil dan tumit yang mengarah keluar. Tungkai bagian atas memanjang dan menekuk pada bagian siku. Saat ini semua organ utama dari tubuh sudah terbentuk, jantung berdetak dengan kuat, darah beredar melalui pembuluh-pembuluhnya, pencernaan aktif dan ginjal mulai berfungsi. Dahi membesar, genetalia eksterna belum menunjukan jenis kelamin tapi sudah mulai berdeferensiasi san anus sudah terbentuk. Satu-satunya perubahan dalam organ sejak saat ini adalah bertambahnya ukuran dan kecanggihan fungsi-fungsi tubuh sang bayi. 
 

9.     Minggu Ke-9
         Minggu ini, panjangnya sekitar 22-30 mm dan beratnya 4 gram. Pada minggu ini telinga bagian luar mulai terbentuk, kaki dan tangan terus berkembang berikut jari kaki dan tangan mulai tampak. Ia mulai bergerak walaupun tidak bisa merasakannya. Dengan Dopler, bisa didengar detak jantungnya.
10.      Minggu Ke-10
         Pada minggu ini mulai tampak seperti manusia kecil dengan panjang mencapai 32-43 mm dengan berat 7 gram. Wajah mulai menunjukan raut muka, letak telinga masih lebih rendah dari posisi normal. Alat kelamin eksternal mulai terbentu Perempuan (klitoris, labia mayor, labia minor) laki-laki (Glan penis, skrotum). Sudah mnunjukan karakteristik perempuan atau laki-laki tapi belum terbentuk sempurna. Pertumbuhan sel otak meningkat dengan cepat, hapir 250.000 sel saraf baru diproduksi setiap menit sehingga proporsi kepala lebih besar daripada tubuh. Tulang sudah menggantikan kartilago. Diafragma memisahkan jantung dan paru-paru dari perut. Otot leher terbentuk.