Rabu, 08 Juni 2016

Penerapan teori Ernestine Weidenbach dalam praktek kebidanan




     A.     Sejarah kehidupan Ernestine Wiedenbach

            Wiedenbach adalah seorang nurse-midwife yang juga teoris di bidang keperawatan. Ia berkualifikasi sebagai perawat pada tahun 1925, dan menjadinurse-midwife pada tahun 1946. Salah satu karya besarnya adalah kolaborasi dengan filsuf Dickoff dan James tahun 1960 ( Dickoff et al.,1992 a dan b ) ketika ia menjadi mahasiswa di Yale University School of Nursing.
            Ernestine Wiedenbach sudah pernah bekerja dalam suatu proyek yang mempersiapkan persalinan berdasarkan teori Dr. Grantley Dick Read. Wiedenbach mengembangkan teorinya secara induktif berdasarkan pengalaman dan observasi dalam praktik.

     B.        Penerapan Konsep Model Kebidanan Menurut Teori Ernestine Wiedenbach
            Menurut Teori Ernestine Wiedenbach konsep model kebidanan dibagi menjadi 5, yaitu :
    
    1.      The Agents
Empat elemen dalam ”clinical nursing” yaitu:
ELEMEN
PENJELASAN
Filosofi
Cara yang ditempuh seseorang dalam memikirkan hidup dan
bagaimana kepercayaan mereka mempangaruhi mereka.
Tujuan
Sasaran di mana perawat bermaksud mencapai akhir daritindakan yang diambil. Semua aktivitas dimaksudkan untuk mencapai agar sesuatuhal menjadi semakin baik.
Praktik
Tindakan di mana perawat melaksanakan sesuatu dalam
rangka memelihara kebutuhan pasien
Seni
Kemampuan untuk memahami kebutuhan klien, dan mampu mengembangkan suatu intuisi dalam hubungan dengan aktivitas mereka





Selain itu penerapan dari tiga poin dasar dalam filosofi keperawatan/ kebidanan menurut ernestine yaitu:
a.      Menghargai atas kehidupan yang telah diberikan, maksud dari teori tersebut, bahwa setiap tenaga kesehatan terutama bidan harus menghargai setiap proses kehamilan yang di inginkan serta tetap mempertahankan dan mensupport kehamilan yang tidak diingikan individu.
b.      Menghargai sebuah kehormatan, suatu yang berharga, otonomi dan individualisme pada setiap orang. Bahwa setiap bidan harus menghargai proses fisiologi dan psykologi  seorang ibu yang sedang hamil.  Sebagai seorang bidan, kita tidak di wajibkan mengeluh atas dampak fisiologi yang sedang di alami seorang ibu hamil. Bidan senantiasa mendampingi proses persalinan seorang ibu hamil atau klien.
c.       Resolusi dalam menerapkan dinamisasi terhadap orang lain. Bahwa setiap bidan dalam melakukan praktik kebidanan harus mengembangkan  pengetahuannya secara terus menerus sesui dengan kemajuan yang terjadi.

     2.      The Recipient
Perawat/bidan memberikan intervensi kepada individu disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan masing-masing.Dalam melakukan tindakan seorang bidan harus mengumpulkan data terlebih dahulu sehingga bidan dapat mengetahui apa saja yang di butuhkan seorang ibu hamil dan riwayat kesehatan  seorang klien sehingga bidan dapat melakukan perencanaan untuk mencegah terjadinya sesuatu di kemudian hari.

    3.      The Goal/Purpose
Tujuan dari proses keperawatan adalah membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Bahwa kebutuhan masing-masing individu perlu diketahui sebelum menemukan tujuannya. Bila sudah diketahui kebutuhan ini, maka bidan dapat memperkirakan goal yang akan dicapai dengan mempertimbangkan tingkah laku fisik, emosional atau psikologis yang berbeda dari kebutuhan yang biasanya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dengan memperhatikan tingkah laku fisik, emosional atau psikologis. Untuk bisa mengidentifikasi kebutuhan pasien, seorang bidan harus menggunakan mata, telinga, tangan, serta pikirannya untuk mengumpulkan data dalam mencapai tujuan.

    4.      The Means
Penerapan  tujuan dari asuhan kebidanan Wiedenbach  yaitu :
a.       Identifikasi kebutuhan klien, sebelum menentukan tindakan atau memberikan intervensi, seorang bidan harus melakukan pengumpulan data yang berupa riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, riwayat pernikahan klien.
b.      Ministration, yaitu memberikan dukungan dalam pencarian pertolongan yang dibutuhkan. Seorang bidan memberikan asuhan dukungan perencanaan untuk menemukan pertolongan yang tepat kepada klien. Misal seorang klien ingin melakukan KB. Maka seorang bidan dapat memberikan obat serta penanganan yang tepat.
c.       Validation, mengecek apakah bantuan yang diberikan merupakan bantuan yang dibutuhkan. Bahwa setiap bidan mendampingi klien post maupun pasca kehamilan. Misal ada seorang klien pasca melahirkan, jika pasien belum sanggup melakukan aktifitas sendiri, seorang bidan wajib mendampingin klien sesuai kebutuhannya, seperti membantu personal hyginenya.
d.      Coordination, koordinasi sumber-sumber yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasien. Seorang bidan membangun komunikasi dengan klien dan keluarga klien agar dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang sesuai  untuk klien

Untuk bisa membantu pasien, bidan harus mempunyai :
a.       Pengetahuan, agar seorang bidan mampu  memahami kebutuhan dan kelainan-kelainan  pada klien
b.      Penilaian, seorang bidan mampu mengambil keputusan dalam memberikan tindakan kepada klien
c.       Ketrampilan, seorang bidan memiliki ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan pasien.


    5.      Framework
Yaitu kerangka kerja yang terdiri dari lingkungan sosial, organisasi, dan profesional. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari bidan tidaklah bekerja sendiri namun ia juga memerlukan tenaga kesehatan yang lainnya atau di sebut managemen team.